Jumat, 29 Januari 2010
Kamis, 28 Januari 2010
Albert Kahn Museum
| Dancers in ruins of Angkor-Vat, Cambodia, 1922. Autochrome, 12x9 cm. Photographer: Leon Busy [©Albert-Kahn museum]. Albert Kahn created the Archives de la Planète (ADLP) at the turn of the twentieth century. They cover forty-eight countries from every continent except Oceania. The ADLP are one of the first projects in film history to envisage film strictly as an historical document.
Scandia sine regiones septentrionalis (“Scandinavia without its northern regions”), in Theatrum orbis terrarum (“Theatre of the World”) by Abraham Ortelius, Antwerp, 1570. Given their scope and goal (to create a visual inventory of the surface of the globe), the ADLP share traits with a primarily cartographic tool: the atlas. In as much as atlases constitute one of the basic ways of representing the world as an ensemble, they share with the ADLP a number of (unexpected) figurative and ideological traits. Based on a 1574 portrait, this engraving of Gerhard Mercator measuring a globe was first printed in the 1584 edition of Ptolemy's Geography. Atlases appeared in the second half of the sixteenth century. They constitute visual apparatuses that include the following:
Frontispiece of the Theatrum Orbis Terrarum (“Theatre of the World”) by Abraham Ortelius, Antwerp, 1570. These first atlases met specific needs in an age of global reach. They had a theatricality in their “mise-en-scene” of the world. In Ortelius’ frontispiece, Europe sits on a throne, between Heaven and Earth, her hands holding the imperial scepter and the cross that sets apart the globe. At her feet we find both Asia (on the left) and Africa (on the right). “Wild” America lies on the floor, holding a decapitated head as a trophy. Next to her, a bust symbolizes the unknown land that the Portuguese Magellan had caught sight of as he sailed round the globe.
Two animist priestesses from Doudoua, Daagbé, Benin, 1930. Autochrome 12x9 cm. Photographer: Frédéric Gadmer. [©Albert-Kahn museum]. The ADLP illustrate a different chapter in the history of atlases. In the early years of the twentieth century, they coincide with the advance of modern-day Western imperialism. Many of non-European countries seen in the collection were French colonial possessions, among which Benin (known at the time as Dahomey).
Albert Kahn on the balcony of his office, Rue de Richelieu, Paris, France, 1914. Photog: Georges Chevalier [©Albert-Kahn museum]. Despite this overlapping with imperialism, Kahn’s project was a philanthropic venture, inspired by a pacifist philosophy. Born “Abraham” Kahn in 1860, he arrived in Paris in the aftermath of the Franco-Prussian war (1870-71) and went from bank employee to extremely wealthy banker in two decades. Kahn remains a leading figure of French Philanthropism. | A cinematographic atlas The Museum |
Jumat, 02 Oktober 2009
Milikilah kebiasaan memberi.
" Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan : Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima "
Siang itu matahari sedang terik2 nya bersinar diatas bumi. Debu berterbangan disekitar jalanan, membuat nafas terasa sesak didada. Berjalan menyelusuri jalan raya pada siang bolong seperti itu membuat kaki Tono penat. Keringat berlelehan mengguyur tubuhnya. Rasa haus ditenggorokan tak tertahankan dengan panas yang membara. Tono berniat berteduh disebuah rumah yang kebetulan memiliki pekarangan dan ada pohon asam rindang tumbuh disitu.
Tono sejenak bisa bernafas lega. Sisa Koran jualannya masih bersisa 3 buah diletakkannya di tanah. Ia menarik nafas dalam2 menikmati segarnya semilir angin dibawah rindangnya pohon asam tua nan kokoh. Rasa kantuk sejenak menyergap matanya.
Sekonyong2, saat ia hampir terlelap terdengar derit pintu rumah dibuka penghuninya. Rasa kantuk hilang seketika berganti rasa takut. “Wah, jangan2 yang punya rumah marah, karena aku berteduh di pekarangannya tanpa meminta ijin terlebih dulu”, sesal Tono.
Sesosok wanita muda keluar menghampiri Tono. Rasa takut semakin menggebu. Tono pun berdiri memberi hormat: “Maaf Bu, saya numpang berteduh sebentar, udara panas sekali di jalanan”, Tono menyapa ramah. Seulas senyum ramah tersungging dari bibir si wanita muda Pemilik rumah.. Hati Tono mulai agak tenang.
“Oh, tidak apa2 Nak, kamu jualan koran ya , sini Ibu lihat koran apa saja yang masih sisa” , rasa haru mulai merambah hati Tono.
Ternyata si nyonya rumah bukan saja ramah tapi juga baik hati. Bukannya marah, Tono malah diajak masuk ke teras pavilion yang sangat nyaman dan memberi Tono segelas besar Es Juice Jeruk yang sangat nikmat. Mata Tono sampai merem melek menyeruput habis Es Juice Jeruk itu dalam sekali tenggak. Tandas habis tanpa sisa. Si nyonya rumah tersenyum melihat kelakuan Tono. Yang lebih mengharukan, sisa Koran Tono yang 3 buah dibeli habis oleh si nyonya rumah. Uang kembaliannya diberikan semua kepada Tono.
Air mata haru menetes dari sudut mata Tono.
Ternyata masih ada orang yang berbaik hati di zaman serba susah seperti sekarang ini, pikir Tono. Berulang kali Tono menghaturkan terima kasih tak terhingga kepada si nyonya rumah yang baik hati. Tono mencatat baik-baik nama sang Nyonya rumah dalam lubuk hatinya : “Hastuti Anggraini”
Selesai berpamitan, dia segera melangkah ke sekolah, karena Tono sekolah siang. Ia terburu-buru agar tidak terlambat.
Waktu bergulir dengan cepat, Tak terasa belasan tahun sudah. Tono sekarang sudah menjadi Dokter. Dokter Spesialis Jantung. Dia bertugas disalah satu Rumah Sakit Pemerintah di kotanya. Di kota kecil itu dialah satu-satunya ahli jantung yang ada. Namanyapun menjadi sangat terkenal diseantero kota .
Sore itu Tono menjalani profesinya seperti biasa. Ia harus mengoperasi seorang Ibu setengah baya. Saat masuk ke ruang oprasi ia merasa wajah yang ada di hadapannya pernah ia kenal. Wajah lembut dan murah senyum. Namun , ia sulit mengingat dimana dia kenal wajah itu. Ia pun segera menghapus lamunannya dan segera mengoperasi dengan sebaik-baiknya. Sebuah Operasi memerlukan konsentrasi tinggi, salah sedikit, nyawa manusia bisa melayang.
Singkat cerita operasipun sukses.
Si wanita setengah baya itu dirawat beberapa hari di rumah sakit untuk pemulihan kondisi tubuhnya pasca operasi. Operasi Jantung memrlukan biaya yang cukup besar. Puluhan juta rupiah. Apalagi buat si Ibu yang sudah janda, jumlah itu tentu sangat besar. Setiap malam si Ibu menjadi sulit tidur memikirkan bagaimana membayar uang operasi dan biaya rawat inapnya.
Siang itu si Ibu diijinkan pulang karena sudah dinyatakan sembuh oleh team Dokter. Dag…dig…dug ….hati si Ibu membayangkan besarnya tagihan biaya Rumah Sakit. Saat anaknya mau membayar ke kasir, petuga kasir bukan meminta uang malahan menyodorkan spucuk surat kepada si anak.
“Tolong kasih surat ini kepada ibu Anda, dan anada boleh membawa pulang ibu Anda sekarang juga”.
“Lalu pembayarannya bagaimana Bu” ? si anak Ibu yang dirawat bertanya tidak mengerti.
“Sudah, pokoknya pulang saja dan jangan memikirkan pembayaran lagi”.
“Yang benar Bu”.
“Benar, tapi jangan lupa kasih surat itu kepada ibu Anda”.
Dengan langkah memburu si anak kembali ke kamar ibunya. Dengan menitikkkan air mata ia menyerahkan surat kepada sang Ibu. Dengan bingung si Ibu menerima surat itu, lalu membukanya.
Ternyata isi surat itu lengkapnya berbunyi seperti ini :
Ibu Hastuti Anggraini yang baik. Hari ini Ibu boleh pulang ke rumah.dengan selamat. Semua biaya perawatan Ibu sudah saya bayar semua. Ibu tidak usah memikirkannya lagi. Semua sudah Lunas. Sudah dibayar dengan segelas Es Juice Jeruk. Anggap saja, semua ini sebagai ucapan terima kasih saya atas kebaikan hati Ibu yang luar biasa tempo hari. Ibu telah mengajari saya tentang perlunya peduli dan mengasihi sesame.
Semoga Ibu sehat sejahtera senantiasa.
Doa dan hormat saya,
Dr. Tono Rahmadi
Meledak tangis ibu Hastuti. Peritiwa belasan tahun lalu kembali terbayang di pelupuk mata. Sorang bocah kecil kurus dan kurang terawatt, terbayang jelas di matanya. Siapa sangka sekarang dia sudah menjadi Dokter hebat. Dan siapa sangka , kebaikan hatinya yang sederhana dulu, sekarang dibayar lunas beserta bunga-bunganya sekaligus. Padahal dulu ia tulus memberi segelas Es Juice Jeruk dan sedikit uang saku dari kembalian uang beli kora kepada Tono.
Ia tanpa pamrih sama sekali sewaktu melakukan hal itu. Hari ini ia melihat betapa sebuah kebaikan kecil ternyata bisa menghasilkan kebaikan yang lebih besar lagi. Bahkan sangat besar.
“ Berilah dan kamu akan diberi; suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurhkan kedalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu “. Lukas 6:38












